SI PENJAGA KEDALAMAN

(www.persis-solo.id/MHK)

NAMANYA mungkin kalah tenar dibanding M Wahyu, Asyraq Gufron, maupun Elina Soka. Namun, perannya sangat sentral di lini tengah Persis Solo musim ini. Dia menjadi aktor kunci di balik kemenangan 3-0 atas Semen Padang FC di partai pembuka kompetisi Liga 2 di Stadion Manahan, Senin (23/4/2018).

Kapasitasnya di lapangan tengah tak diragukan lagi. Tiga pelatih selalu memercayakan pemain ini untuk mengawal lini krusial. Semenjak Freddy Muli, Marwal Iskandar, dan terakhir Jafri Sastra, dia menjadi pilihan utama.

Ya, dialah Heru Setyawan, yang akrab disapa Eto’o. Awal bergabung dengan Laskar Sambernyawa, cibiran menghinggapi pemain bertinggi 180 sentimeter tersebut di media sosial. Namun, hal itu tak membuatnya ciut nyali. Dia hanya diam dan tersenyum menanggapi cibiran tersebut. Dia hanya fokus dan fokus berlatih dan bermain, demi kejayaan Persis Solo, lambang di dada yang saat ini tengah dijunjungnya menuju angkasa.

Dibanding rekan-rekan yang lain, nama Heru memang sangat asing di mata pecinta sepak bola khususnya di Solo Raya. Sebelum bergabung bersama Persis Solo, pemain asli Kota Salatiga tersebut menjadi bagian penting dari Persita Tangerang musim 2017. Di kehidupan sehari-hari, pemain ini tidak banyak cakap. Sebaliknya, dia pria humoris dan selalu membuat tawa di tengah rekan-rekannya di mes pemain.

Perannya terlihat saat menghadapi Semen Padang FC di pekan perdana sekaligus partai pembuka. Pelatih Jafri Sastra memasang skema 4-2-3-1, dengan dua pemain tengah milik M Wahyu dan Heru Setyawan. Diduetkan bersama M Wahyu, tidak ada rasa canggung.

(www.persis-solo.id/MHK)

Pergerakannya sangat simpel. Merebut bola, memberikan ke Elina Soka sebagai pengatur serangan, dan sesekali memberikan umpan terobosan ke lini serang.

Tak hanya itu, Eto’o pemutus serangan pertama saat lawan masuk ke area pertahanan Persis Solo. Tak heran, aktor kreasi Kabau Sirah, Rudy, dibuat tak berkutik.  Saat beruji coba melawan Bhayangkara FC, peran Eto’o sangat terlihat dengan mematikan pergerakan Paulo Sergio.

“Saya memang ditugaskan Coach Jafri untuk menjaga kedalaman bersama mas Wahyu. Lawan yang menguasai bola, harus segera saya putus alur serangnya,” tutur Heru yang merupakan rekan satu kamar Soni Setiawan.

Dari sisi lapangan, Jafri Sastra selalu berteriak mengingatkan Heru menjaga kedalaman lini pertahanan Laskar Sambernyawa. Selain piawai di lini tengah, dia juga memiliki tendangan keras dari luar kotak penalti. Dalam beberapa sesi latihan finishing touch, Heru menjadi eksekutor bola-bola mati dari tengah yang langsung mengarah ke gawang.

Dia mengaku bersyukur bisa bergabung dengan Persis Solo musim ini. Menurutnya, kesolidan dan kebersamaan pemain sangat terlihat, baik di dalam maupun luar lapangan. Selain internal tim yang sangat kondusif, dukungan suporter Pasoepati dan Surakartans menambah semangat dia saat bertanding.

“Alhamdulillah, saya bisa menjadi bagian keluarga besar Persis. Saya berharap, ambisi manajemen untuk promosi ke Liga 1 bisa terwujud dengan kerja keras semua pemain dan dukungan dari suporter,” jelas eks PON Jateng tersebut.

(www.persis-solo.id/MHK)

Di mata rekan-rekannya, Heru Setyawan dikenal sosok yang humoris. Kiper Galih Sudaryono bahkan sering bercanda dengan Heru, baik di mes maupun usai latihan.

“Dia baik, dan tidak pernah marah, selalu tersenyum jika dikerjain anak-anak. Tetapi, ketika berlatih dan berlaga, dia menjadi pribadi yang profesional. Sangat serius dan tidak main-main,” kata Galih.

Lini tengah bagaikan sebuah area perang yang harus dikuasai dalam setiap pertandingan. Jika lini ini bobol oleh musuh, peluang mencetak gol atau masuk ke lini pertahanan akan berpengaruh besar. Di sinilah peran vital seorang Heru Setyawan, si penjaga kedalaman. (www.persis-solo.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *